5 Alasan Cerdas untuk Berkonsultasi dengan Terapis Rehabilitasi Medis

Rehabilitasi medis

JAKARTA — Rehabilitasi medis ternyata tak sekadar diperuntukkan bagi mereka yang baru saja mengalami cedera atau kecelakaan. Salah satu upaya medis ini bisa jadi bukan pilihan pertama yang akan Anda lakukan ketika berhadapan dengan rasa nyeri, sakit kepala yang membandel atau untuk mengendalikan diabetes.

Tapi mungkin ini saatnya Anda harus mengenal dan mencari tahu apa itu rehabilitasi medis. Di Klinik Lamina Pain and Spine Center, Anda bisa memulainya dengan berkonsultasi dengan Dr. Sri Wahyuni, SpKFR yang berpraktek sesuai perjanjian hari Senin sampai dengan Sabtu, pukul 11.00 sampai dengan selesai.

Bersama dokter dan para terapis lainnya, berbagai kasus seperti sendi yang bergeser hingga nyeri bahu kronis bisa dilatih hingga kembali ke fungsi semula. Sehingga Anda bisa kembali ke aktivitas yang Anda cintai sebelum sakit menyerang.

Berikut lima alasan mengapa Anda perlu mempertimbangkan rehabilitasi medis seperti dikutip dari beberapa sumber :

1. Memperbaiki mobilitas, keseimbangandan kekuatan.

Seorang terapis rehabilitasi fisik adalah seorang penolong dalam latihan bergerak. Bagian dari tugas mereka adalah mengajarka tentang penyebab dan efek gerakan pada tubuh manusia.

Misalnya nyeri lutut bisa jadi hasil dari masalah kekuatan di pinggul, sementara masalah tunnel carpal dan nyeri leher bisa jadi karena terlalu banyak mengetik atau menggunakan gadget.

Terapi fisik bisa membantu Anda untuk menyesuaikan bagaimana bergerak setiap hari dalam aktivitas mereka dan bagaimana saat berolah raga. Sangat penting bersikap proaktif selama terapi fisik dan menjaga mekanisme sistem tubuh Anda. Seorang terapis yang baik akan menjelaskan mengapa tubuh Anda bereaksi dengan cara tertentu dan mereka akan bekerja sama dengan Anda untuk memperbaikinya.

2. Mencegah pembedahan

Meski tindakan pembedahan kadang tak bisa dihindari, para terapis rehabilitasi medis bisa membantu agar pada pasca tindakah bedah pemulihan bisa lebih cepat dicapai. Kerja sama antara Anda, ahli bedah dan tim rehabilitasi medis akan mewujudkannya.

3. Mencegah cedera.

Dalam beberapa kasus orang mungkin tak akan pernah menemui ahli rehabilitasi medis, kecuali setelah mereka mengalami cedera. Tapi kini Anda sudah tahu bahwa Anda bisa menemui ahli rehabilitasi medik sebagai perawatan pencegahan.Misalnya saja Anda punya hobi salah satu jenis olahraga yang akan membentuk postur Anda.

Seorang terapis yang baik akan mengamati dan menghitung kadar aktivitas harian Anda dan bagaimana cedera bisa dihindari. Termasuk bagaimana Anda tetap sadar melakukan gerakan-gerakan yang sekaligus bisa menghindari kecelakaan dan cedera.

4. Mengelola proses penuaan.

Seiring bertambahnya usia, kita berisiko kehilangan massa dan kekuatan otot, membuatnya lebih sulit untuk menyeimbangkan berat badan kita sendiri. Terapis dapat membantu mengatasi nyeri sendi, nyeri artritis, dan masalah osteoartritis.

Penting juga bagi orang dewasa yang berusia lanjut untuk belajar membuat modifikasi dan penyesuaian untuk kegiatan sehari-hari, seperti bangun dari kursi atau berjalan naik turun tangga. Terapis dapat membantu Anda bergerak dengan percaya diri dan mengurangi risiko jatuh dan cedera seiring bertambahnya usia.

5. Membantu mengendalikan penyakit atau kondisi tertentu.

Terapi fisik jauh melampaui pusat rehabilitasi. Beberapa terapis fisik dilatih untuk membantu orang dengan kondisi yang melibatkan jantung, paru-paru atau berat badan mereka – atau berspesialisasi dalam mengobati nyeri dan disfungsi dasar panggul.

Orang dengan diabetes tipe 2, misalnya, dapat memperoleh manfaat dari terapi fisik karena pengondisian fisik membantu penurunan berat badan melalui gerakan yang berpotensi mengurangi kebutuhan akan obat-obatan dan mengurangi risiko penyakit jantung dan stroke.
Area fokus lain di PT adalah membantu mengelola kondisi neurologis seperti penyakit Parkinson dan multiple sclerosis. Ketika datang ke terapi fisik, gerakan adalah obat – dan kadang-kadang obat terburuk yang diresepkan setelah didiagnosis dengan penyakit adalah ‘istirahat di tempat tidur.’ (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *